DARI GELANGGANG MENUJU JUARA TEKNOLOGI NASIONAL CATATAN PERJALANAN YANG TAK PERNAH LURUS
Sebuah refleksi dari mahasiswa Teknologi Rekayasa Sistem Elektronika, Universitas Negeri Malang ( MARIO LEONARDO / TITL )
DARI GELANGGANG MENUJU JUARA TEKNOLOGI NASIONAL CATATAN PERJALANAN YANG TAK PERNAH LURUS
Cerita ini tidak dimulai dari kemenangan, melainkan dari sebuah keraguan besar. Saat masih duduk di bangku SMK PGRI Wlingi jurusan Teknik Instalasi Tenaga Listrik, duniaku jauh dari buku dan cita-cita akademis. Aku dulu jatuh cinta pada dunia bela diri, menghabiskan waktu di sasana, dan tidak jarang terlibat perkelahian di luar sekolah karena darah muda yang meluap-luap. Bagiku waktu itu, Jalanan terasa jauh lebih nyata daripada bangku kuliah. Jujur saja,Dulu kuliah bukanlah sesuatu yang pernah terbayang dalam rencanaku. Tidak ada minat, apalagi ambisi, ke arah sana. Namun jalan hidup sering kali menuntun kita ke tempat yang justru paling kita butuhkan, bukan yang paling kita inginkan.
Selama dua tahun setelah lulus, saya menjalani masa gap year sembari bekerja. Di sela kesibukan itu, saya mencoba terus belajar untuk menghadapi ujian SNBT. Dua kali percobaan berakhir dengan penolakan dari salah satu kampus bergengsi di Surabaya. Rasanya berat, tetapi kegagalan itu justru menjadi bahan bakar diam-diam yang menyalakan usaha di percobaan berikutnya.
“Kegagalan bukan tanda berhenti, melainkan bab pembuka menuju babak yang paling berarti.”
Titik Balik: Kesempatan Terakhir yang Berbuah Manis
Pada percobaan ketiga, saya memilih Universitas Negeri Malang dan akhirnya diterima di Program Studi Teknologi Rekayasa Sistem Elektronika, sebuah pilihan yang ternyata sangat sejalan dengan minat dan kemampuan saya. Sejak saat itu, saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah menempuh jalan begitu panjang untuk sampai ke tangan saya.
Tahun Pertama: Beradaptasi dari Titik Rendah
Dua tahun tidak menyentuh bangku sekolah membuat masa adaptasi di tahun pertama terasa sangat berat. Saya masih ingat betul ketika mendapat nilai 20 pada kuis mata kuliah Matematika Teknik, sebuah angka yang seketika meruntuhkan kepercayaan diri saya. Duduk di antara teman-teman yang pola pikirnya masih segar membuat rasa minder itu semakin nyata. Namun daripada tenggelam dalam perasaan itu, saya memilih untuk mencari fase ternyaman dan metode belajar yang benar-benar cocok dengan diri saya sendiri.
“Rasa minder bukan tanda kita tidak layak, melainkan sinyal bahwa kita sedang melangkah keluar dari zona nyaman.”
Melangkah, Memimpin, dan Berlayar Bersama Tim
Setelah satu tahun beradaptasi, saya memutuskan untuk bergabung tim robotik di Fakultas Vokasi dan dipercaya sebagai Supervisor Software Engineer pada divisi kapal. Tanggung jawab saya berpusat pada sistem kontrol dan operating system Autonomous Surface Vessel (ASV), atau yang biasa disebut kapal otonom. Bersama rekan-rekan satu tim, Jonathan, Dimas, Revan, dan Farhan, kami membangun proyek ini dari nol hingga menjadi sebuah karya yang utuh.
Rasa syukur terbesar saya justru datang dari lingkaran pertemanan ini, sebuah tim yang saling mendukung dan suportif tanpa syarat. Di tengah proses riset, kami juga mendapat kesempatan mengikuti sesi mentoring bersama Prof. Safa dari MSU Malaysia, yang memperkaya sudut pandang kami dalam menyempurnakan prototipe kapal untuk dilombakan pada Kontes Kapal Indonesia 2025, sekaligus dipublikasikan pada International Conference on Electrical, Electronics and Information Engineering (ICEEIE) 2025.
“Karya besar jarang lahir dari satu tangan; ia tumbuh dari kepercayaan yang dibangun bersama tim.”
Awal Desember, Momen yang Ditunggu
Setelah melewati proses panjang, awal Desember menjadi momen yang telah lama aku nanti. Timku maju di ajang Kontes Kapal Indonesia 2025 dan berhasil meraih Juara 3 Nasional pada kategori performa, sekaligus penghargaan Best Design. Dua pencapaian ini, ditambah publikasi internasional yang telah kutempuh, menjadi jalan bagiku untuk mendapatkan rekognisi skripsi dan akhirnya bisa memermudah prosesku untuk studi dalam waktu 3,5 tahun.
“Kerja keras yang konsisten cepat atau lambat akan menemukan jalannya sendiri menuju hasil.”
Babak Baru: Belajar dari Dunia Industri
Di 2,5 tahun terakhir masa studi, saya mengambil kesempatan magang industri di PT Wira Griya, Jakarta, mempelajari sistem kontrol Robotic Arm serta integrasi Turn Table menggunakan PLC. Pengalaman ini memperkaya hardskill maupun softskill saya, dan membuktikan bahwa setiap tahap dalam perjalanan ini saling menyambung membentuk satu kesatuan cerita.
“Setiap pengalaman baru adalah ruang kelas yang tidak pernah benar-benar tutup.”
Langkah Selanjutnya:Perahu akan Menyeberang menuju Taiwan
Selepas menuntaskan magang industri, aku tidak berhenti untuk mencari ruang belajar berikutnya. Kali ini aku mencoba peluang baru dengan mendaftar program Riset/Penelitian Taiwan Experience and Education Program di National Yang Ming Chiao Tung University. Kabar baiknya datang tidak lama kemudian: saya dinyatakan diterima. Di sana, saya akan memperdalam sistem kontrol dan detection pada robot otonom, bidang yang sejalan betul dengan apa yang selama ini saya tekuni namun kini dengan skala dan sudut pandang yang baru.
Pada tanggal 11 September mendatang, saya akan berangkat menuju Taiwan untuk memulai babak ini. Ada rasa gugup, tentu saja, tetapi lebih besar dari itu adalah rasa syukur dan semangat untuk terus mengumpulkan bekal ilmu dari lingkungan yang berbeda. Perjalanan ini membuktikan satu hal sederhana: pintu-pintu baru akan terus terbuka selama kita berani mengetuknya, sekalipun langkah pertama dulu dimulai dari keraguan besar di bangku SMK. Tunggu kisahku selanjutnya Yaaa....
“Dunia tidak pernah berhenti menawarkan kelas baru bagi mereka yang belum berhenti belajar.”